Minggu, 07 Februari 2021
PENGHAPUSAN SARANA DAN PRASANA
Rabu, 20 Januari 2021
MODEL KOMUNIKASI
Model Komunikasi
Pengertian Model
Model adalah representasi simbolik dari suatu benda, proses, sistem, atau gagasan. Model dapat berbentuk gambar-gambar grafis, verbal, atau matematikal. Perbedaan pokok antara teori dan model adalah: teori merupakan penjelasan, sementara model hanya merupakan representasi. Yang dimaksud model komunikasi adalah gambaran yang sederhana dari proses komunikasi yang memperlihatkan kaitan antara satu komponen komunikasi dengan komponen lainnya. Secara umum, model-model komunikasi dapat dibagi dalam lima kelompok. Kelompok pertama, disebut sebagai model-model dasar. Kelompok kedua menyangkut pengaruh personal, penyebaran dan dampak komunikasi masa terhadap perorangan. Kelompok ketiga meliputi model-model tentang efek komunikasi massa terhadap kebudayaan dan masyarakat. Kelompok keempat berisikan model-model yang memusatkan perhatian pada khalayak. Kelompok kelima mencakup model-model komunikasi tentang sistem, produksi, seleksi dan alur media massa.
Fungsi Model
Fungsi model ada tiga (3) yaitu :
1. Melukiskan proses komunikasi.
2. Menunjukkan hubungan visual.
3. Membantu dalam menemukan dan memperbaiki kemacetan komunikasi.
Model S-R
Model ini adalah model komunikasi paling
dasar. Model ini dipengaruhi oleh disiplin psikologi, khususnya yang beraliran
bihavioristik. Komunikasi dianggap sebagainsuatu proses aksi-reaksi yang sangat
sederhana. Ketika saya tersenyum pada Anda dan Anda membalas senyiman saya,
itulah model S-R. Model ini mengasumsikan bahwa kata-kata verbal
(lisan-tulisan), isyarat-isyarat non verbal, gambar-gambar, dan
tindakan-tindakaj tertentu akan merangsang orang lain untuk memberikan respon
dengan cara tertentu. Model ini mengabaikan adanya faktor manusia seperti
sistem internal individu. Singkatnya model ini menganggap bahwa komunikasi itu
bersifat statis.
Manusia selalu karena adanya stimulus atau rangsangan dari luar,
bukan berdasarkan kehendak, keinginan atau kemauan bebasnya. Oleh karena itu,
model ini kurang tepat kalau diterapkan pada proses komunikasi manusia.
Model Aristoteles
Aristoteles adalah filosof Yunani, tokoh
paling dini yang mengkaji komunikasi, yang intinya adalah persuasi Model
Aristoteles adalah model yang paling klasik atau disebut juga model retoris.
Oleh karena itu, model ini merupakan penggambaran dari komunikasi retoris,
komunikasi publik atau pidato. Aristoteles adalah orang pertama yang
merumuskan model komunikasi verbal pertama. Proses komunikasi terjadi ketika
ada seorang pembicara berbicara kepada orang lain atau khalayak lain dala
rangka merubah sikap mereka.
Aristoteles mengemukakan tiga unsur yang harus ada dalam proses
komunikasi :
1.
Pembicara (speaker)
2.
Pesan (message)
3.
Pendengar (listener)
Menurut Aristoteles, persuasi dapat dicapai oleh :
1.
Siapa Anda (etos-kepercayaan
anda)
2.
Apa argumen Anda (Logos-logika
dalam pendapat Anda)
3.
Dengan memainkan emosi
khalayak (pathos-emosi khalayak)
Salah satu kelemahan model ini adalah bahwa proses komunikasi
dipandang sebagai suatu yang statis dan tidak mempedulikan saluran, umpan
balik, efek, dan kendala-kendala. Disanping itu, model ini juga berfokus pada
komunikasi yang disengaja (komunikator mempunyai keinginan secara sadar untuk
merubah sikap orang lain)
Model Laswell
Model ini merupakan sebuah pandangan umum
tentang komunikasi yang dikembangkan dari batasan ilmu polotik.
Who say what in which channel to whom with
what effect ?
Laswell mengemukakan tiga fungsi komunikasi, yaitu :
1.
Pengawasan lingkungan,
2.
Korelasi berbagai
bagian terpisah dalam masyarakat yang merespon lingkungan.
3.
Transmisi warisan
sosial.
Model ini merupakan versi verbal dari model Shannon dan Weaver.
Model ini melihat komunikasi sebagai transmisi pesan : Model ini mengungkapkan
isu “efek” dan bukannya “makna”. Efek secara tak langsung menunjukkan adanya
perubahan yang bisa diukur dan diamati pada penerima yang disebabkan
unsur-unsur yang bisa diidentifikasi dalam prosesnya. Model ini lebih sesuai
diterapkan pada kajian komunikasi massa.
Model Shannon dan Weaver
Model ini terdiri dari lima elemen :
a) Information Source adalah yang
memproduksi pesan.
b) Transmitter yang menyandikan
pesan dalam bentuk sinyal.
c) Channel adalah saluran pesan.
d) Receiver adalah pihak yang
menguraikan atau mengkonstruksikan pesan dari sinyal.
e) Destination adalah dimana pesan
sampai.
Suatu konsep penting dalam model ini adalah gangguan (noise),
yakni setiap rangsangan tambahan dan tidak dikehendaki yang dapat mengganggu
kecermatan pesan yang disampaikan. Konsep-konsep lain yang merupakan andil
Shannon dan Weaber adalah entropi dan redudansi. Model ini diterapkan pada
konteks-konteks komunikasi lainnya seperti komunikasi antarpribadi, komunikasi
publik atau komunikasi massa. Sayangnya, model ini juga memberikan gambaran
yang parsial mengenai proses komunikasi.
Model Schramm
Menurut Schram komunikasi senantiasa membutuhkan setidaknya tiga
unsur :
1.
Sumber, bisa berupa :
·
Seorang individual
berbicara, menulis, menggambar, bergerak.
·
Sebuah organisasi
komunikasi (koran, rumah produksi, televisi).
1.
Pesan, dapat berupa
tinta dalam kertas, gelombang suara dalam udara, lambaian tangan, atau
sinyal-sinyal lain yang memiliki makna.
2.
Sasaran, dapat berupa
individu yang mendengarkan, melihat, membaca, anggota dari sebuah kelompok,
mahasiswa dalam perkuliahan, khalayak massa, pembaca surat kabar, penonton
televisi, dll.
Schramm melihat komunikasi sebagai usaha yang bertujuan untuk
menciptakan commonness antara komunikator dan komunikan. Hal
ini karena komunikasi berasal dari bahasa latin communis yang
artinya sama.
Schramm mengenalkan konsep field of experience, yang
menurut Schramm sangat berperan dalam menentukan apakah komunikasi diterima
sebagaimana yang diinginkan oleh komunikan. Beliau menekankan bahwa tanpa
adanya field of experience yang sama, hanya ada sedikit
kesempatan bahwa suatu pesan akan diinterpretasikan dengan tepat. Dalam hal
ini, model Schramm adalah pengembangan dari model Shannon dan Weaver. Schramm
mengatakan bahwa pentingnya feedback adalah suatu cara untuk
mengatasi masalah noise.
Pada model ini, Schramm percaya bahwa ketika komunikan
memberikan umpan balik maka ia akan berada pada posisi komunikator (source).
Pengamanan dan Pemeliharaan Sarpras
Materi KD 3.15 Pengamanan dan Pemeliharaan Sarpras
Pengamanan dan Pemeliharaan Sarpras
A. PENGERTIAN
Pengamanan sarpras adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses (usaha, pembangunan, dan proyek )
Pemeliharaan sarpras adalah kegiatan untuk melaksanakan penhurusan dan pengaturan agar semua sarana dan prasarana selalu dalam keadaan baik dan siap untuk kegiatan secara berdaya guna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan pendidikan.
B. TUJUAN PENGAMANAN DAN PEMELIHARAAN SARPRAS
a. untuk mengoptimalkan usia pakai peralatan.
b. untuk menjamin kesiapan operasional peralatan untuk mendukung kelancaran pekerjaan sehingga diperoleh hasil yang optimal.
c. Untuk menjamin ketersediaan peralatan yang diperlikan melalui pengecekan secara rutin.
d. Untuk menjamin keselamatan prang / siswa yang menggunakan peralatan tersebut.
C. MANFAAT PENGAMANAN DAN PEMELIHARAAN SARPRAS
1. Barang – barang akan terpelihara dengan baik, sehingga jarang terjadi kerusakan.
2. Memperpanjang umur barang (perlengkapan), sehingga tidak perlu diganti dalam waktu singkat.
3. Menghindari kehilangan karena terkontrol terus.
4. Menghindari penyimpanan yang tidak teratur.
5. Dengan pemeliharaan, akan menghasilkan pekerjaan yang baik.
D. PERBEDAAN PERAWATAN PREVENTIF DAN PERAWATAN KOREKTIF
· Perawatan preventif (preventif maintenance) dilakukan untuk mencegah timbulnya kerusakan – kerusakan yang tidal terduga dan menemukan kondisi / keadaan yang dapat menyebabkan peralatan / mesin mengalami kerusakan pada waktu digunakan dalam pekerjaan.
· Perawatan korektif (breakdown maintenance) dilakukan setelah peralatan / mesin mengalami kerusakan / ketidaknormalan fungsi sehingga tidak dapat beroprerasi dengan baik.
E. PEMELIHARAAN MENURUT UKURAN WAKTU DAPAT DILAKSANAKAN DENGAN DUA CARA YAITU:
a. Pemeliharaan sehari – hari ini dapat dilakukan setiap hari (setiap akan/sesudah dipakai)
b. Pemeliharaan berkala ini dapat dilakukan secara berkala / dalam jangka waktu tertentu sesuai petunjuk penggunaan (manual).
F. PEMELIHARAAN DALAM ASPEK HUKUM
a. Pengurusan sertifikat kepemilikan tanah.
b. Surat ijin mendirikan dan penggunaan barang bangunan.
c. Pengurusan STNK dan BPKB pada kendaraan bermotor dan surat – surat lainnya.
G. PENGERTIAN PERAWATAN TERUS MENERUS
Perawatan terus menerus adalah pemeliharaan yang setiap kurun waktu tertentu. Misalnya harian, mingguan, bulanan, dan triwulan bahkan tahunan.
H. PENGERTIAN PEMELIHARAAN DARI SEGI PENGGUNAAN
Barang yang digunakan harus sesuai dengan fungsinya sehingga dapat mengurangi kerusakan pada barang tersebut.
I. TUJUAN DARI PERAWATAN BERKALA
Bertujuan untuk merawat sekaligus memperbaiki jika ada kerusakan agar sarana dan prasarana dapat berfungsi kembali sebagaimana meestinya. Kegiatan dapat dilakukan oleh warga sekolah sendiri tetapi untuk perbaikan dilakukan oleh orang diluar sekolah.
Senin, 05 Oktober 2020
Inventarisasi Barang Habis Pakai dan Tidak Habis Pakai
Inventarisasi Barang Habis Pakai dan Tidak Habis Pakai
Pengadministrasian barang inventaris dilakukan menggunakan
- Buku Induk Barang Inventaris
- Buku Golongan Barang Inventaris
- Buku Catatan Barang Non Inventaris
![]() |
| buku induk barang inventaris |
- Diisi dengan nomor menurut urutan pembukuan barang inventaris ke dalam Buku Induk Barang Inventaris, sesuai dengan bukti penyerahan barang.
- Diisi sesuai dengan tanggal pencatatan barang ke dalam Buku Induk Barang Inventaris.
- Diisi sesuai dengan tabel klasifikasi kode barang inventaris.
- Diisi sesuai dengan istilah Indonesia yang sudah dibakukan.
- Disisi dengan merk, nomor, type, ukuran dan sebagainya.
- Diisi dengan jumlah barang inventaris yang dibukukan.
- Diisi sesuai dengan sebutan yang berlaku (misal: stel, lembar M, M2)
- Diisi dengan tahun pembuatan barang inventaris yang dibukukan (umpama dari pabrik dan sebagainya)
- Disebutkan sumber perolehan barang, misalnya anggaran rutin, hibah, bantuan, buatan sendiri dan lain sebagainya.
- Disebutkan satu persatu kelengkapan dokumen yang dimiliki (seperti: sertifikat tanah, akte jual beli, izin banguna, kontrak pemborong dan lain-lain) dan tanggal penyerahan atau perolehan barang.
- Diisi sesuai keadaan barang pada waktu diterima misalnya "Baik", "Rusak".
- Diisi sesuai harga faktur/bukti penyerahan barang. Untuk barang-barang bantuan/sumbangan yang tidak diberikan harganya, diisi menurut harga taksiran pada waktu penerimaan barang.
- Diisi dengan keterangan tambahan yang dianggap perlu.
![]() |
| buku golongan barang inventaris |
- Diisi dengan nomor menurut urutan pembukuan barang inventaris ke dalam Buku Induk Barang Inventaris, sesuai dengan bukti penyerahan barang.
- Diisi dengan nomor barang inventaris yang terdapat dalam buku induk inventaris
- Diisi sesuai tabel klasifikasi barang inventaris.
- Diisi sesuai dengan istilah indonesia yang sudah dibukukan atau sesuai dengan nama barang yang disebut di dalam Buku Induk Barang Inventaris.
- Disisi dengan merk, nomor, type, ukuran dan sebagainya.
- Diisi dengan jumlah barang inventaris yang dibukukan.
- Diisi sesuai dengan sebutan yang berlaku (misal: stel, lembar M, M2)
- Diisi dengan tahun pembuatan barang inventaris yang dibukukan (umpama dari pabrik dan sebagainya)
- Diisi sesuai keadaan barang pada waktu diterima misalnya "Baik", "Rusak".
- Diisi sesuai harga faktur/bukti penyerahan barang. Untuk barang-barang bantuan/sumbangan yang tidak diberikan harganya, diisi menurut harga taksiran pada waktu penerimaan barang.
- Dalam lajur ini dicatat keterangan fungsi barang sebagai alat teknis pendidikan (misalnya alat praktek, alat penelitian percobaan dan sebagainya). Bagi unit kantor, dicatat tempat barang tersebut dipergunakan sebagai alat kantor.
- Diisi dengan keterangan tambahan yang dianggap perlu.
![]() |
| buku catatan barang non inventaris |
- Diisi dengan nomor menurut rutan pembukuan barang non inventaris kedalam buku catatan barang non inventaris berdasarkan bukti penyerahan barang.
- Diisi dengan nama barang sesuai dengan istilah Indonesia yang sudah umum.
- Diisi dengan nomor kartu stock yang diberikan kepada barang yang sudah dibukukan.
- Diisi dengan merk, nomor, type, ukuran dan sebagainya, yang dapat memperjelas ciri khusus dari barang yang dibukukan.
- Diisi dengan jumlah barang non inventaris yang dibukukan.
- Diisi dengan sebutan yang berlaku.
- Diisi dengan tahun pembuatan barang non inventaris yang dibukukan.
- Diisi dengan sumber perolehan barang.
- Disebutkan satu persatu kelengkapan dokumen yang dimiliki dan diisi sesuai tanggal bukti penyerahan barang non inventaris.
- Diisi sesuai dengan keadaan barang pada waktu dibukukan misalnya "Baik", "Rusak".
- Diisi sesuai dengan harga faktur/bukti penyerahan barang
- Diisi sesuai dengan harga faktur/bukti penyerahan barang.
- Diisi dengan keterangan tambahan yang dianggap perlu.
Rabu, 30 September 2020
MATERI HUMAS DAN KEPROTOKOLAN
Pemanfaatan Sarana dan Prasarana Kantor
Konsep Pemanfaatan Sarana dan Prasarana Kantor 1. Pengertian pemanfaatan Sarana dan prasarana Menurut kamus besar bahasa ind...
-
PERENCANAAN KEBUTUHAN SARANA DAN PRASARANA KANTOR OTOMATISASI TATA KELOLA SARANA DAN PRASARANA KOMPETENSI DASAR INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETE...
-
MEMBERIKAN PELAYANAN KEPADA PELANGGAN KELAS XII/5 2 KD 1. Mendiskripsikan Pelayanan Prima INDIKATOR 1.1 Mampu menjelaskan pengertian pela...
-
Materi Kelas XI OTKP KD.3.4 ETIKA DAN KODE ETIK PROFESI HUMAS Etika dan Kode Etik Profesi Humas – Materi ini terdapat pada Bab 4 tentang Eti...




